Minggu, 29 Mei 2016

News Islami | GUPUH, SUGUH DAN LUNGGUH (SELAMAT DATANG BULAN RAMADHAN)

Ramadhan segera menghampiri

Tidak lama lagi, kita umat Islam akan kedatangan tamu agung yaitu bulan suci Ramadhan. Sebagai tuan rumah yang baik, tentu kita tidak ingin mengecewakan datangnya bulan Ramadhan. Oleh karena itulah, kita mesti gupuh, suguh dan lungguh terhadap bulan puasa ini. Terminologi gupuh, suguh dan lungguh begitu akrab bagi masyarakat Jawa. Gupuhnya umat Islam dalam menyambut bulan ini ditunjukkan dengan berbagai persiapan entah itu di musholla, masjid, surau, bahkan tidak sedikit instansi dan sekolah yang juga berlomba-lomba mempersiapkan diri dalam menyambut bulan Ramadhan.

Telah ada contoh dari Rasulullah bahwa beliau dahulu memberi berita gembira pada para sahabatnya dengan kedatangan bulan ini. Beliau bersabda :

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa didalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu neraka….” (HR. Ahmad)

Demikian pula orang-orang shaleh terdahulu dari kalangan shahabat dan tabi’in, mereka sangat perhatian dengan datangnya bulan Ramadhan ini serta bergembira didalam menyambutnya. Maka kebahagiaan manakah yang lebih agung dibandingkan dengan berita dekatnya bulan Ramadhan, momen untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya.

TEKAD BULAN RAMADHAN

Sedangkan yang bisa kita suguhkan dalam menjamu bulan Ramadhan antara lain bertekad dan membuat program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan. Kebanyakan dari manusia, bahkan dari kalangan yang berkomitmen untuk agama ini (beragama Islam), membuat program yang sangat serius untuk urusan dunia mereka, seperti belanja ke mall, bersih-bersih rumah, sibuk membuat kue lebaran dan lain sebagainya. Akan tetapi sangat sedikit dari mereka yang membuat program sedemikian bagusnya untuk urusan akhirat. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran terhadap tugas seorang mukmin dalam hidup ini, dan lupa atau bahkan melupakan bahwa seorang muslim memiliki kesempatan yang banyak untuk dekat dengan Allah untuk mendidik jiwanya, sehingga ia bisa lebih banyak dan lebih baik dalam beribadah terutama dalam bulan Ramadhan.

Di antara program akhirat yang bisa kita lakukan adalah program menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah dengan sebaik-baiknya. Seharusnya seorang muslim membuat program perencanaan amal yang akan dikerjakan pada siang dan malam di bulan Ramadhan. Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pahala di bulan Ramadhan serta menyusun waktunya (membuat jadwal) untuk beramal shalih.

Puasa di bulan Ramadhan

Berbekal ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum di bulan Ramadhan, wajib atas seseorang yang beriman untuk beribadah kepada Allah dilandasi dengan ilmu, dan tak ada alasan untuk tak mengetahui kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Diantara kewajiban itu adalah puasa di bulan Ramadhan. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim belajar untuk mengetahui perkara-perkara puasa serta hukum-hukumnya sebelum ia melaksanakannya (sebelum datang bulan Ramadhan), agar puasanya sah dan diterima oleh Allah Ta’ala.

“Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’:7). Oleh karena itu, momen dalam bulan ini sangat tepat untuk menimba ilmu keIslaman sebanyak-banyaknya, karena hampir di setiap masjid dan musholla selalu menyuguhkan kajian-kajian menarik disela-sela sholat isya’ dan tarawih. Dengan demikian wawasan keIslaman kita akan semakin luas dan kedekatan kita dengan yang Maha Dekat akan semakin mesra.

Sedangkan yang terakhir lungguhnya kita untuk mengisi bulan yang mulia ini adalah dengan lebih banyak berdiam diri di masjid terutama pada sepuluh hari yang terakhir, untuk merenungi, mengevaluasi dan mensyukuri segala kebaikan dan anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Secara total kita mendekatkan diri kepadaNya, dengan lebih banyak duduk membaca, mempelajari, mengkaji dan memahami baik ayat-ayat Kauniyah maupun ayat-ayat Qauliyah. Setelah itu, mari kita sempurnakan Ramadhan kita dengan lebih banyak memberi. Karena tidak akan sempurna segala ibadah kita kepada Allah, kalau didalam diri kita tidak ada empati, simpati dan rasa peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Dengan kata lain, kesalehan individu harus diikuti dengan kesalehan sosial. Selamat menjalankan ibadah puasa. Wallahu a’lam.

Sabtu, 26 Maret 2016

News Islami | ADAKAH AMALAN YANG LEBIH UTAMA DARI AMALAN SHALAT, PUASA, DAN SEDEKAH?

Selama ini banyak umat Islam yang menganggap bahwa amalan yang paling besar ganjaran pahalanya adalah amalan – amalan wajib seperti Shalat, Puasa, dan juga Zakat. Padahal, anggapan ini tidak benar adanya. Di atas tiga amalan wajib tersebut ternyata masih ada amalan – amalan lainnya yang memiliki ganjaran pahala yang jauh lebih besar. Lantas amalan apakah itu yang nilai ganjaran pahalanya jauh lebih besar dibandingkan dengan amalan – amalan wajib?

Amalan yang Lebih Utama dari Shalat, Puasa, dan Sedekah

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan jika salah satu sahabat Rasulullah yaitu Abu Darda r.a pernah berkata kepada para sahabatnya yang lain “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama dibandingkan dengan sedekah dan menjalankan ibadah puasa?”. Mendengar perkataan salah satu sababat nabi Nabi tersebut, sontak para sahabat langsung serentak mengatakan bahwa mereka mau mengetahui perihal apa yang nilai nya jauh lebih utama dari ibadah Puasa dan juga Sedekah.

Beberapa saat kemudian Abu Darda r.a segera melanjutkan perkataannya “yaitu mendamaikan di antara yang tengah berselisih karena kebencian merupakan penghalang dari mendapatkan pahala.”

Amalan yang Lebih Utama dari Amalan Shalat

Mendamaikan Orang Yang Berselisih Merupakan Amalan yang Lebih Utama Dari Shalat

Perkataan Abu Darda r.a di atas juga dilandasi oleh salah satu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang artinya “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu amalan yang lebih utama dari derajat mereka yang berpuasa, shalat, dan bersedekah?”

Sontak para sahabat pun langsung menjawab “Tentu wahai Rasulullah.”

Rasul pun segera melanjutkan perkataannya “ (ialah) mendamaikan seseorang yang berselisih. Karena sesungguhnya kerusakan dari perselisihan adalah terhalanginya seseorang dari mendapatkan pahala.”

Selama ini, manusia mengganggap sedekah merupakan aktivitas yang sangat mulia dan juga utama untuk dilakukan. Ketika umat Islam bersedekah dengan tulus dan ikhlas, maka ia akan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar yaitu sekitar 700 kali lipat dari apa yang disedekahkannya. Tidak hanya itu, orang yang rajin bersedekah juga telah dijamin keselamtannya dari siksa api neraka yang sangat menyiksa. Bahkan, faedah bersedekah sering kali juga sudah kita rasakan ketika kita masih hidup yaitu berupa kemudahan dan kelancaran jalur rezeki, kesehatan tubuh, hilangnya berbagai macam penyakit yang melekat pada tubuh, dan berbagai macam faedah yang lainnya.

Tidak hanya itu, selama ini manusia juga menganggap jika puasa merupakan aktivitas ibadah yang sangat utama karena dapat melatih kesabaran dan juga hawa nafsu. Hal ini memang benar adanya dan banyak didukung oleh hadits – hadits shahi yang menyatakan jika puasa dapat membuat seseorang terbebas dari apni neraka yang ditenggarai oleh hawa nafsu dunia. bahkan, dalam hadits yang lainnya diterangkan juga bahwa berpuasa dapat membuat tubuh manusia menjadi lebih sehat baik di luar maupun di dalam.

Padahal, kenyataannya, di antara dua aktivitas ibadah tersebut, masih ada aktivitas ibadah atau pun amalan lainnya yang jauh lebih utama untuk dikerjakan yaitu mendamaikan setiap perselisihan yang terjadi di sekitar kita. Aktivitas perselisihan akan mendatangkan kebencian, dan kebencian akan menghapus setiap amal perbuatan baik yang telah kita lakukan. Sehingga ketika perselisihan masih berlangsung, maka setiap amalan yang kita lakukan tidak akan bernilai sama sekali.
Itulah amalan yang jauh lebih utama dibandingkan dengan amalan shalat, puasa, dan sedekah. Semoga bermanfaat ya!

Selasa, 08 Maret 2016

News Islami | WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH SAW


News Islami- Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan (Wada'). Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata: 

"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."

Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: "Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna." 

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."

Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah s.a.w., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah mukaRasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "YaRasulullah s.a.w., Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara 'Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah s.a.w., 'Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda." Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai 'Ukasyah,Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."  

Bersambung ke edisi ke-2

Jumat, 04 Maret 2016

News Islami | UNTA DAN ANAKNYA



News Islami- Suatu hari seekor unta betina dan anaknya sedang bercengkrama tatkala anak bertanya kepada ibunya, "Ibu, bolehkan aku bertanya sesuatu?"
"Tentu anakku! Adakah sesuatu yang mengganggumu?", tanya ibunya. 
Si anak bertanya, "Ibu, mengapa kita memiliki punuk?"
"Oh itu karena kita adalah hewan gurun, kita memerlukan punuk untuk menyimpan air sebagai cadangan ketika ada di padang pasir".
"Oh begitu, lalu kenapa kaki kita panjang dan bulat?"
"Itu untuk mempermudah kita berjalan di padang pasir. Dengan kaki seperti itu kita bisa bergerak dengan lebih baik dibanding hewan lainnya".
"Lalu mengapa kita memiliki bulu mata yang panjang? Sangat mengganggu penglihatan ibu".
Sang ibu menjawab dengan tegas dan bangga bahwa jawabannya bisa memuaskan keingintahuan anaknya, "Anakku, bulu mata yang panjang itu unuk melindungi mata kita dari debu dan pasir. Bagaimana anakku, apakah masih ada yang ingin kau ketahui?"
Si anak terdiam sementara sambil berpikir sesuatu. Tak lama kemudian ia setengah berteriak berkata pada ibunya, "Satu lagi ibu, punuk untuk menyimpan air saat kita di padang pasir, kaki untuk berjalan di padang pasir dan bulu mata untuk melinduni dari pasir dan debu padang pasir, lalu mengapa kita harus memilikinya? Bukankah kita saat ini ada di kebun binatang!?"
Pesan moral: Keterampilan, pengetahuan, kemampuan dan pengalaman hanya berguna jika Anda berada di tempat yang tepat.


Kamis, 03 Maret 2016

News Islami | SEORANG KAKEK DAN BUAH PEPAYA


News Islami- Sahabat News Islami yang baik hati, Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.
Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.
“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”
“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.
Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.
“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.
Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.
Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”



Kisah inspirasi diatas dikutip dari khutbah yang ditulis oleh ustadz Saiful Amien

News Islami | TELAH HADIR NOVEL AYAT AYAT CINTA 2 KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY


News Islami- Wah ada kabar yang sangat menggembirakan buat kalian yang suka sama novel-novel bagus dan bestseller. Novel AYAT AYAT CINTA 2 akan segera terbit. Setelah kemarin sempat mengeluarkan novel beraliran baru – novel sejarah – sekarang kang abik meneruskan cerita dari novel ayat- ayat cinta yang fenomenal itu. Udah nonton kan pastinya film ayat-ayat cinta yang diadaptasi dari novel ayat ayat cinta ? Silahkan buka youtube aja yang belum nonton. hehe
Oke.. langsung aja, berikut sinopsis novel ayat ayat cinta 2 karya habiburrahman el shirazy..
Mari kita simak.....
Fahri, yang kini tinggal di Edinburgh dan bahkan menjadi dosen di University of Edinburgh, terpaksa menjalani ke hidupan sehari-harinya sendirian. Bersama dengan Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarahTurki, ia menruskan kehidupannya tanpa Aisha.
Terkadang Fahri masih saja menangis saat mengingat kenangan-kenangannya bersama Aisha. Kenyataan bahwa istri yang sangat dicintainya itu kini menghilang entah kemana, membuatnya nelangsa dan hampir putus asa. Maka ia menghabiskan hari-harinya dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan, penelitian, mengajar, danbisnis yang dulu dikelola berdua bersama Aisha.
Aisha menghilang dalam sebuah perjalanan ke Palestina bersama teman wanitanya saat ingin membuat cerita dan reportase tentang kehidupan di sana. Teman Aisha ditemukan dalam keadaan sudah kehilanga nnyawa dan kondisi tubuh yang mengenaskan dan sangat mungkin kondisi Aisha juga sama meski tubuhnya belum ditemukan saat ini.
Sudah lebih dari dua tahun Fahri berduka dan tenggelam dalam usaha pencarian istri yang sanagat dicintainya itu. Ia pun pindahke Edinburgh karena itulah kota yang sangat disukai Aisha di dataranInggris. Dengan menyibukkan dirinya, ia berusaha menyingkirkan rasa

sedihnya sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri dunia pertama itu. Ia berbuat baik pada tetangganya, menyebarkan ilmu agama pada berbagai pihak, dan membantu orang-orang yang butuh bantuannya tanpa memandang bulu.
Berbagai kegiatan menyibukkan dirinya, hingga sebuah pertanyaan mengusik datang dari berbagai pihak. Akankah ia membujang seumur hidup setelah ditinggal Aisha? Akankah ia bertemu dengan istrinya itu sekali lagi?
Berikut RESENSI NOVEL AYAT AYAT CINTA 2 Karya Habiburrahman El Shirazy
resensi atas novel karya terbaru dari seorang novelis Habiburrahman el Shirazy ini saya tulis setelah menuntaskan membacanya dalam waktu semalam saja karena rasa penasaran yang begitu besar. Karya ini merupakan kelanjutan kisah dari novel Ayat Ayat Cinta yang terbit sekitar 10 tahun yang lalu. Ada kerinduan pembaca atas kehadiran novel ini. Bukan hanya novel agama, namun ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik oleh para pembaca ketika mereka membacanya tanpa merasa digurui oleh sang penulis. Begitupun ternyata dengan kelanjutan kisahnya di novel Ayat Ayat Cinta bagian 2 ini.
Sebuah setting tempat di sebuah universitas ternama Edinburgh University menjadi halaman pembuka. Bangunan kuno, klasik, namun tampak begitu berkelas membuka kisah. Cerita berlanjut ketika ternyata sang tokoh utama, Fahri Abdullah kini bukan lagi menjadi seorang mahasiswa. Ia sudah menjadi dosen. Dan hari itu ia bertugas untuk menggantikan profesor Charlotte, salah satu dosen senior di universitas tersebut untuk memberikan kuliah mengenai philologi.
Fahri ternyata setelah dinyatakan tidak bersalah pada kasus Noura saat mereka di Mesir dulu kemudian menuntaskan S2 dan S3. Namun sayang, kisah asmaranya bersama sang istri tercinta harus berakhir. Aisha pergi bersama salah satu teman wanitanya yang berprofesi seorang jurnalis ke Palestina. Ia ingin mempelajari dan melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat disana. Fahri tidak bisa menemaninya karena ada ujian Doktoral. Setelah kepergian Aisha hari itu, ia seperti hilang di telan bumi. Tak ada kabar berita, hanya ada satu kabar buruk tentang teman wanita yang pergi dengannya ditemukan tewas mengenaskan di negeri Palestina oleh kekejaman Israel.
Meski sedih namun Fahri masih berharap Aisha masih ada dan akan kembali Alloh pertemukan dengannya.
Sepeninggal istrinya, Fahri menyibukkan diri dengan segala aktifitasnya. Dia pindah ke Edinburgh salah satu kota di kawasan Britania raya, sebuah kota yang sangat diidamkan oleh istri tercintanya. Disana dia mengajar, mengisi berbagai kajian, hingga menjalankan bisnis di berbagai bidang. Ini salah satu nilai tambah novel Ayat Ayat Cinta 2, bukan hanya berkisah tentang cinta namun entrepreneurship juga hadir di seri kedua novel ini. Fahri menjalankan bisnis Aisha di Jerman hingga juga membuka bisnis baru merambah ke bisnis butik dan kuliner.

Fahri mencoba menenggelamkan dirinya dalam kesibukkan agar tidak terlarut dalam kesedihan ditinggal Aisha. Dalam perjalanan kisahnya Fahri dipertemukan dengan beberapa orang. Ia harus menjalin cerita dengan sebuah keluarga yang memiliki anak berbakat bernama Keira dan Jason. Ia juga menjadi seorang tetangga yang baik bagi seorang nenek bernama menek Catarina.
Rujukan ke IslamicTunesNews

Selasa, 01 Maret 2016

News Islami | NABI ZULKIFLI MENGALAHKAN IBLIS



Kisah Islamiah pada malam ini tentang kisah Nabi Zulkifli as dan Iblis. Nabi Zulkifli as memiliki rahasia khusus untuk mengalahkan iblis Laknatullah. Ia melawan tipu daya iblis dengan keteguhan dan kesabaran, dan dengan 2 hal tersebut, ternyata iblis berhasil dikalahkan oleh Nabi Zulkifli as.

Nabi Zulkifli ini merupakan seorang pemuda yang teguh pendirian serta sabar.
Nabi Zulkifli as ini sebenarnya memiliki nama asli Basyar, dan beliau tinggal di sebuah negara yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Pada suatu hari, raja tersebut mengumpulkan semua rakyatnya.


"Siapakah yang sanggup berlaku sabar, jika siang hari berpuasa dan jika malam hari beribadah?" tanya raja tersebut.
"Untuk apa wahai Paduka?" tanya salah seorang rakyatnya.
"Aku sudah terlalu tua memimpin negeri ini. Aku ingin menunjuk penggantiku, akan tetapi orang itu harus sesuai dengan kriteriaku," jelas sang raja.
Rakyatnya diam seribu bahasa. Mereka hanya bisa saling pandang tanpa mengatakan kesanggupannya. Dalam keheningan tanpasuara itu, ada salah seorang pemuda ynag mengacungkan tangan dan ia sanggup melakukan apa yang diminta rajanya. Dialah seorang pemuda yang bernama Basyar.

"Saya sanggup wahai Paduka," kata Basyar.
"Benarkah apa yang engkau katakan wahai anak muda?" tanya raja.
"Aku sanggup berlaku sabar, jika siang hari berpuasa dan jika malam hari beribadah," jawab Basyar.

Sejak saat itulah dia dipanggil dengan sebutan Zulkifli yang artinya "Sanggup".
Dan beliau akhirnya diangkat menjadi raja.

Zulkifli benar-benar bisa melakukan syarat yang diminta rajanya. Bila waktu malam telah tiba, ia beribadah dan di waktu siang hari, Zulkifli selalu berpuasa.
Melihat keteguhan iman dan kesabaran Zulkifli ini, iblis laknatullah seolah tak rela. Bukan iblis namanya kalau dia merelakan suatu kebaikan.


Ketika iblis mengetahui Zulkifli hanya tidur dalam waktu yang tidak terlalu lama di malam hari, iblis berusaha mengganggu tidur Zulkifli yang haya sebenatar itu.
Iblis berpikir bahwa bila ia berhasil membuat Zulkifli tidak tidur di waktu tersebut (malam hari), maka iblis yakin kalau Zulkifli akan kesulitan beribadah di tengah malam.

Iblis memiliki siasat untuk menghadapi Zulkifli dengan menjelma menjadi seorang kakek.
Kakek itu datang dan berpura-pura mengadukan nasibnya kepada Zulkifli.
"Hamba seorang musafir, barang-barang hamba dirampok di perjalanan," kata kakek itu.
"Datanglah besok pagi, akan kuputuskan masalahmu dalam sidang," jawab Zulkifli.

Tipu Daya Iblis.
Namun, pada keesokan paginya, kakek itu tidak datang.
Setelah ditunggu hingga sore di rumah sidang, kakek itu juga tak kunjung nongol. Namun, ketika malam harinya, saat Zulkifli hendak beristirahat,kakek itu datnag lagi menghadap.

"Mengapa engkau baru datang, bukankah engkau berjanji akan datang pagi hari?" tanya Zulkifli.
"Orang yang merampok saya cerdik Tuanku. Jika waktu sidang dibuka, barang saya dikembalikan, dan jika sidang hendak ditutup, barang saya dirampasnya kembali," jawab kakek itu.

Pada suatu malam, Raja Zulkifli sangat mengantuk.
Ia telah berpesan kepada para penjaga agar menutup semua pintu dan menguncinya. Saat hendak membaringkan diri, terdengar suara pintu kamarnya diketok orang.
"Siapa yang masuk? tanya Zulkifli kepada prajurit penjaganya.
"Tidak ada seorang pun yang masuk Tuanku," jawab prajurit.

Zulkifli heran, jelas-jelas tadi ia mendengar suara pintu diketuk.
Lalu Zulkifli memeriksa sekeliling rumah, dan ternyata dia menemukan kakek yang bermasalah tersebut. Ia merasa heran, padahal semua pintu jelas telah terkunci rapat.

"Engkau bukan manusia, engkau pasti iblis," kataZulkifli.
"Ya, aku memang iblis yang ingin menguji kesabaranmu. Ternyata memang benar, engkau orang yang dpat memenuhi kesanggupanmu dulu," jawab iblis.

Karena siasatnya tidak berhasil, iblis pun akhirnya pergi.
Nabi Zulkifli as memang terkenal memiliki kesabaran yang tinggi dan selalu mempergunakan akal sehatnmya.
Itulah rahasi Nabi Zulkifli as dalam mengalahkan iblis.



News Islami | SINGA DAN SHOLAT KHUSYU’


Sahabat NewsIslami yang dimuliakan ALLAH SWT, mari sejenak kita simak pembahasan dibawah dengan kisah singa dan sholat khusyu’ apa maknanya.
Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam Nubala’ menceritakan sebuah kisah yang mengagumkan dan sepantasnya jadi renungan kita bersama.
Sekelompok orang melakukan safar tiba di sebuah lembah yang dikelilingi hutan belantara. Saat malam tiba, mereka beristirahat di sana. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya seekor singa. Semua orang panik. Semua orang takut. Mereka pun berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon.
Tetapi, diantara riuhnya kepanikan itu, ada satu orang yang tetap tenang. Ia sedang shalat dan tetap melanjutkan shalatnya. Orang-orang melihat detik demi detik berikutnya yang sangat menegangkan. Benar dugaan mereka, singa itu mendatangi orang yang tengah melakukan shalat itu. Matanya menyorot tajam. Satu langkah, dua langkah. Aneh. Singat itu tidak langsung menerkamnya. Singa itu justru berjalan mengelilingi orang itu. Setelah itu, singa pergi meninggalkannya begitu saja.
Orang-orang bernafas lega. Setelah memastikan singa itu pergi dan tidak ada tanda-tanda ia kembali lagi, mereka pun turun dari pohon.
“Engkau gila!” kata mereka kepada temannya seusai ia shalat, “mengapa engkau tidak ikut menyelamatkan diri bersama kami? Hampir saja singa itu memakanmu”
“Seperti kalian lihat,” jawabnya tenang, “aku tadi sedang shalat. Demi Allah, aku merasa malu bahwa aku sedang berdiri menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi aku malah takut kepada hal lainnya.”
“Aku malu bahwa aku berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi aku malah takut kepada salah satu makhlukNya.”
Masya Allah… demikian tinggi tingkat khusyu’ shalat orang ini. Ia tetap berada dalam shalatnya, meski singa datang mendekatinya.
Bagaimana dengan kita? Selayaknya kita banyak-banyak beristighfar karena pada saat shalat, kita mengingat hal lain. Kita membaca Al Qur’an, tetapi pikiran kita terkadang melayang ke sana kemari. Tubuh kita menghadap kiblat, tetapi jiwa kita berada di tempat yang lain. Lisan kita melafal doa, tetapi hati kita tidak menghayati doa-doa itu.
Lalu bagaimana seandainya ada kucing yang datang mendekat kepada kita? Kucing saja, bukan singa. Terkadang seekor kucing sudah membuat kita salah tingkah dalam shalat. Apalagi singa. Atau yang lebih sering, nyamuk yang menggigit kita saat sedang shalat, membuat kita lebih konsentrasi pada sakit gigitannya daripada tenggelam dalam ayat-ayat yang kita baca.
Mari merenungi shalat kita dari kisah ini. Betapa masih jauhnya kita dari khusyu’ saat shalat. Padahal Allah memfirmankan kecelakaan orang-orang yang lali dari shalatnya. “Wailul lil mushalliin, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun”. Sebagian mufassir menjelaskan bahwa “an shalatihin saahuun” adalah orang-orang yang meninggalkan shalat. Mereka itulah orang-orang yang celaka. Namun, sebagian yang lainnya menjelaskan bahwa “an shalatihim saahuun” adalah mereka yang lalai dalam shalatnya. Mengerjakan shalat, tetapi waktunya ditunda-tunda. Termasuk juga mengerjakan shalat, tetapi hati dan jiwanya tidak ikut shalat. Mengerjakan shalat, tetapi ia tidak khusyu’ dalam shalatnya. Sekedar fisik yang menghadap kiblat dan lisan yang mengucap doa, tetapi hatinya lalai entah ke mana. Na’udzubillah. 
Dikutip dari http://islamiktunes.blogspot.com/


News Islami | BIOGRAFI IMAM MUSLIM

Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Imam Muslim dilahirkan di Naisabur tahun 202 H atau 817 M. Naisabur, saat ini termasuk wilayah Rusia. Dalam sejarah Islam, Naisabur dikenal dengan sebutan Maa Wara’a an Nahr, daerah-daerah yang terletak di belakang Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah.
Naisabur pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan tidak kurang 150 tahun pada masa Dinasti Samanid. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, kota Naisabur juga dikenal saat itu sebagai salah satu kota ilmu, bermukimnya ulama besar dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah.
Kecenderungan Imam Muslim kepada ilmu hadits tergolong luar biasa. Keunggulannya dari sisi kecerdasan dan ketajaman hafalan, ia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Di usia 10 tahun, Muslim kecil sering datang berguru pada Imam Ad Dakhili, seorang ahli hadits di kotanya. Setahun kemudian, Muslim mulai menghafal hadits dan berani mengoreksi kekeliruan gurunya ketika salah dalam periwayatan hadits.
Seperti orang yang haus, kecintaanya dengan hadits menuntun Muslim bertuangalang ke berbagai tempat dan negara. Safar ke negeri lain menjadi kegiatan rutin bagi Muslim untuk mendapatkan silsilah yang benar sebuah hadits.
Dalam berbagai sumber, Muslim tercatat pernah ke Khurasan. Di kota ini Muslim bertemu dan berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Pada rihlahnya ke Makkah untuk menunaikan haji 220 H, Muslim bertemu dengan Qa’nabi,- muhaddits kota ini- untuk belajar hadits padanya.
Selain itu Muslim juga menyempatkan diri ke Hijaz. di kota Hijaz ia belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas ‘Abuzar. Di Irak Muslim belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Kemudian di Mesir, Muslim berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Termasuk ke Syam, Muslim banyak belajar pada ulama hadits kota itu.
Tidak seperti kota-kota lainnya, bagi Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah Imam Muhaddits ini berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama ahli hadits. Terakhir Imam Muslim berkunjung pada 259 H. Saat itu, Imam Bukhari berkunjung ke Naisabur. Oleh Imam Muslim kesempatan ini digunakannya untuk berdiskusi sekaligus berguru pada Imam Bukhari.
Berkat kegigihan dan kecintaannya pada hadits, Imam Muslim tercatat sebagai orang yang dikenal telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, menyebutkan, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan.
Bila dihitung dengan pengulangan, lanjutnya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sedang menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim merupakan hasil saringan sekitar 300.000 hadits. Untuk menyelasekaikan kitab Sahihnya, Muslim membutuhkan tidak kurang dari 15 tahun.
Imam Muslim dalam menetapkan kesahihan hadits yang diriwayatkkanya selalu mengedepankan ilmu jarh dan ta’dil. Metode ini ia gunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Selain itu, Imam Muslim juga menggunakan metode sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat). Dalam kitabnya, dijumpai istilah haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarani (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), maupun qaalaa (ia berkata). Dengan metode ini menjadikan Imam Muslim sebagai orang kedua terbaik dalam masalah hadits dan seluk beluknya setelah Imam Bukhari.
Selain itu, Imam Muslim dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah. Keramahan yang dimilikinya tidak jauh beda dengan gurunya, Imam Bukhari. Dengan reputasi ini Imam Muslim oleh Adz-Dzahabi disebutan sebagai Muhsin min Naisabur (orang baik dari Naisabur).
Maslamah bin Qasim menegaskan, “Muslim adalah tsiqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam).” Senada dengan Maslamah bin Qasim, Imam An-Nawawi juga memberi sanjungan: “Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits.”
Seperti halnya Imam Bukhari dengan Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, Imam Muslim juga memiliki kitab munumental, kitab Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih karya Imam Muslim lainnya, Shahih Muslim yang memuat 3.033 hadits memiliki karakteristik tersendiri. Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada penjabaran hadits secara resmi. Imam Muslim bahkan tidak mencantumkan judul-judul pada setiap akhir dari sebuah pokok bahasan.
Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.
Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Perbedaan ini terjadi bila dilihat dari sisi pada sistematika penulisannya serta perbandingan antara tema dan isinya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an agar dapat dipastikan sanadnya bersambung. Sementara Imam Muslim menganggap cukup dengan “kemungkinan” bertemunya kedua rawi dengan tidak adanya tadlis.
Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsiqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Selain itu, kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding al-Bukhari.
Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya. Muslim juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab seperti yang dilakukan Bukhari lakukan. Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H dengan mewariskan sejumlah karyanya yang sangat berharga bagi kaum Muslim dan dunia Islam.

Akhir Hayat Imam Muslim

Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan di makamkan di kampung Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Selama hidupnya, Muslim menulis beberapa kitab yang sangat bermanfaat

Para Guru Imam Muslim

Imam Muslim mempunyai guru hadits sangat banyak sekali, diantaranya adalah: Usman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaiban bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab, ’Amar an-Naqid, Muhammad bin Musanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Sa’id al-Aili, Qutaibah bin sa’id dan lain sebagainya.

Murid yang meriwayatkan Haditsnya

Banyak para ulama yang meriwayatkan hadits dari Muslim, bahkan di antaranya terdapat ulama besar yang sebaya dengan dia. Di antaranya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi isa at-Tirmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Shahih Muslim. Dan masih banyak lagi muridnya yang lain.

Pujian para Ulama Terhadap Imam Muslim

Apabila imam bukhari sebagai ahli hadits nomor satu, ahli tentang ilat–ilat (cacat) hadits dan seluk beluk hadits, dan daya kritiknya sangat tajam, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari, baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan, karena Muslim adalah salah satu dari muridnya.
Al-Khatib al-Bagdadi berkata: “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya.” Pernyataan ini bukanlah menunjukkan bahwa Muslim hanya seorang pengikut saja. Sebab ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.
Imam Muslim mendapat pujian dari ulama hadis dan ulama lainnya. Al–Khatib al-Bagdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, katanya “Saya me-lihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dari pada guru-guru hadits lainnya.
Ishak bin Mansur al-Kausaj berkata kepada Muslim: “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin.”
Ishak bin Rahawaih pernah mengatakan: “Adakah orang lain seperti Muslim?”. Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Muslim adalah penghafal hadits. Saya menulis hadits dari dia di Ray.” Abu Quraisy berkata: “Di dunia ini, orang yang benar-benar ahli hadits hanya empat orang. Di antaranya adalah Muslim.” Maksudnya, ahli hadits terkemuka di masa Abu Quraisy. Sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.

Kitab tulisan Imam Muslim

Imam muslim mempunyai kitab hasil tulisannya yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya:
  1. Al-Jamius Syahih
  2. Al-Musnadul Kabir Alar Rijal
  3. Kitab al-Asma’ wal Kuna
  4. Kitab al-Ilal
  5. Kitab al-Aqran
  6. Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal
  7. Kitab al-Intifa’ bi Uhubis Siba’
  8. Kitab al-Muhadramain
  9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahidin
  10. Kitab Auladus Sahabah
  11. Kitab Auhamul Muhadisin.
Kitabnya yang paling terkenal sampai kini ialah Al-Jamius Shahih atau Shahih Muslim.